Peran ulama dan santri dalam kemerdekaan Indonesia tidak hanya tercatat di medan perang, tetapi juga lahir dari ruang-ruang mengaji di pesantren. Di bawah bimbingan para kiai, santri belajar bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari tanggung jawab sebagai hamba Allah.
Semangat itulah yang membuat banyak ulama dan santri turun tangan, baik dengan mengangkat senjata, menggerakkan rakyat, maupun membangun pendidikan setelah merdeka. Banyak di antara mereka yang kini dikenang sebagai Pahlawan Nasional.
Berikut 10 di antaranya, diurutkan berdasarkan tahun penetapan gelar pahlawan mereka.
1. KH Ahmad Dahlan
Sebelum dikenal sebagai KH Ahmad Dahlan, ia bernama kecil Muhammad Darwis. Ilmu agama ia pelajari sejak belia, lalu diperdalam selama bertahun-tahun di Tanah Suci.
Sepulang dari Makkah, ia mendirikan Muhammadiyah pada 1912. Dari gerakan ini lahir sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan yang menjangkau masyarakat luas, menjadikan pendidikan dan amal sosial sebagai jalan perjuangan.
2. KH Zainul Arifin
Pada masa perang kemerdekaan, KH Zainul Arifin dipercaya memimpin Laskar Hizbullah, barisan pejuang yang sebagian besar anggotanya adalah santri.
Kiprahnya berlanjut di pemerintahan setelah Indonesia berdaulat, hingga ia dipercaya menjabat Wakil Perdana Menteri. Perjalanannya menunjukkan bahwa santri mampu berperan di garis depan perjuangan maupun di kursi pemerintahan.
3. KH Hasyim Asy’ari
Pendiri Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama ini berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain di Jawa dan Madura sebelum menuntut ilmu di Makkah.
Pada 22 Oktober 1945, ia mengeluarkan Resolusi Jihad yang menyerukan kewajiban membela kemerdekaan. Seruan ini menggerakkan ribuan santri dan rakyat untuk bertempur, dan tanggalnya kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional.
4. KH Wahid Hasyim
Mewarisi semangat ayahnya, KH Wahid Hasyim membawa angin baru ke dunia pesantren dengan memasukkan pelajaran umum ke dalam kurikulum. Ia ingin santri memahami agama sekaligus siap menghadapi perkembangan zaman.
Ia juga terlibat dalam BPUPKI menjelang kemerdekaan dan kemudian menjadi Menteri Agama pertama Republik Indonesia.
5. KH Zainal Mustafa
Dari Pesantren Sukamanah di Tasikmalaya, KH Zainal Mustafa menyuarakan penolakan terhadap praktik penjajahan yang merendahkan martabat umat. Pada 1944, ia bersama para santrinya bangkit melawan tentara Jepang di Singaparna.
Perlawanan itu harus dibayar mahal, tetapi keteguhannya menolak tunduk pada penjajah terus dikenang sebagai teladan keberanian kaum santri.
6. Pangeran Diponegoro
Masa kecil Pangeran Diponegoro dihabiskan di Tegalrejo, Yogyakarta, di lingkungan yang akrab dengan kehidupan pesantren dan para ulama. Dari sanalah tumbuh kesalehan dan kepekaannya terhadap penderitaan rakyat.
Ia kemudian memimpin Perang Jawa (1825–1830), salah satu perlawanan terbesar terhadap Belanda. Dalam perang itu, banyak kiai dan santri bergabung dan berjuang di sisinya.
7. KH Noer Ali
Masyarakat Bekasi mengenang KH Noer Ali sebagai ulama yang berdiri paling depan memimpin perlawanan rakyat di masa revolusi.
Usai perang, perjuangannya beralih ke dunia pendidikan. Ia mendirikan lembaga pendidikan Islam dan membina santri hingga akhir hayatnya, memastikan semangat juang itu terus diwariskan.
8. Buya Hamka
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka, menempuh pendidikan agama di surau dan madrasah di tanah Minang. Sepanjang hidupnya, ia berdakwah lewat mimbar, tulisan, dan karya sastra.
Tafsir Al-Azhar yang ia tulis masih menjadi rujukan hingga kini. Ia juga dipercaya menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia yang pertama.
9. KH Abdul Wahab Chasbullah
KH Abdul Wahab Chasbullah adalah ulama asal Jombang yang turut membidani lahirnya Nahdlatul Ulama. Jauh sebelum kemerdekaan, ia merintis Nahdlatul Wathan, sebuah gerakan pendidikan untuk menumbuhkan rasa kebangsaan di kalangan santri.
Gagasannya bahwa cinta tanah air sejalan dengan keimanan menjadi pegangan banyak generasi santri hingga hari ini.
10. Ki Bagus Hadikusumo
Ki Bagus Hadikusumo pernah belajar di pesantren sebelum dipercaya memimpin Muhammadiyah. Menjelang kemerdekaan, ia duduk di BPUPKI dan ikut dalam perdebatan penting tentang dasar negara Indonesia.
Sikapnya yang teguh namun mau bermusyawarah menunjukkan bahwa ulama turut meletakkan fondasi berdirinya bangsa.
Meneruskan Perjuangan Para Santri
Perjuangan para pahlawan dari pesantren kini diteruskan oleh jutaan santri yang menuntut ilmu di berbagai pelosok negeri. Namun, tidak semua dari mereka belajar dalam kondisi yang layak. Masih banyak santri yang mengaji dengan Al-Qur’an yang sudah usang, kitab yang terbatas, hingga fasilitas yang jauh dari cukup.
Para pahlawan telah mewariskan kemerdekaan, dan kini giliran kita menjaga semangat mereka tetap menyala di pesantren-pesantren. Dukung perjuangan para santri dalam menuntut ilmu dengan menyalurkan kepedulianmu melalui TemanBaik.id.
