Kabut asap karhutla tidak selalu datang dengan langit yang menghitam atau jarak pandang yang hilang. Ada kalanya langit tampak cukup cerah, aktivitas berjalan seperti biasa, tetapi udara yang dihirup sebenarnya sudah tidak aman bagi kesehatan.
Inilah yang membuat kabut asap sering diremehkan. Banyak orang baru waspada ketika asap terlihat pekat, padahal bahaya sudah lebih dulu masuk ke dalam tubuh lewat setiap tarikan napas.
Mengapa Kabut Asap Karhutla Sulit Dikenali?
Asap yang menipis belum tentu menandakan udara sudah bersih. Asap karhutla membawa partikel halus bernama PM2.5. Menurut US EPA, ukurannya sekitar 30 kali lebih kecil dari sehelai rambut, sehingga tak terlihat oleh mata.
Karena begitu kecil, partikel ini bisa terus melayang di udara meski langit tampak cerah. Angin juga dapat membawanya jauh dari titik api, sehingga warga yang tinggal berkilo-kilometer dari lokasi kebakaran tetap bisa ikut menghirupnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru, bahkan hingga ke aliran darah. Tanpa disadari, setiap tarikan napas di tengah kabut asap karhutla bisa membawa partikel ini masuk ke dalam tubuh.
Tanda Udara Mulai Tidak Aman
Meski partikelnya tak terlihat, ada beberapa tanda yang bisa dikenali ketika kualitas udara mulai memburuk.
1. Bau asap tercium meski langit tampak cerah
Bau terbakar yang tercium di sekitar rumah atau jalan menandakan asap sudah sampai ke lingkungan tempat tinggal, meski belum terlihat pekat.
2. Langit tampak keruh atau kekuningan
Langit yang biasanya biru berubah menjadi pucat, abu-abu, atau kekuningan. Matahari pun terlihat lebih redup dari biasanya.
3. Jarak pandang mulai menurun
Gedung, pepohonan, atau kendaraan di kejauhan tampak samar, seolah tertutup kabut tipis.
4. Mata terasa perih atau berair
Mata mudah terasa panas, gatal, atau berair saat berada di luar ruangan, bahkan dalam waktu singkat.
5. Tenggorokan gatal dan mulai batuk
Tenggorokan terasa kering atau gatal, disertai batuk ringan yang muncul tanpa sebab yang jelas.
6. Napas terasa lebih berat
Napas terasa lebih pendek atau berat, terutama saat berjalan jauh, naik tangga, atau beraktivitas fisik.
Sayangnya, tanda-tanda ini sering baru terasa ketika kualitas udara sudah masuk kategori tidak sehat. Artinya, saat tubuh mulai memberi sinyal, paparan asap sudah berlangsung cukup lama.
Batas Udara Berbahaya Menurut ISPU
Tanda-tanda di atas bisa dipastikan lewat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), ukuran resmi yang digunakan pemerintah untuk menunjukkan tingkat pencemaran udara sekaligus risikonya bagi kesehatan.
Kualitas udara berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) terbagi ke dalam beberapa kategori:
ISPU 0–50 (Baik): Kualitas udara berada dalam kondisi baik dan relatif aman bagi kesehatan.
ISPU 51–100 (Sedang): Kualitas udara masih dapat diterima, tetapi kelompok sensitif perlu mulai memperhatikan kondisi udara.
ISPU 101–200 (Tidak Sehat): Kualitas udara dapat mulai berdampak pada kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
ISPU 201–300 (Sangat Tidak Sehat): Kondisi udara dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada sebagian besar orang.
ISPU 301 ke atas (Berbahaya): Kualitas udara berada pada tingkat yang dapat menimbulkan risiko kesehatan serius bagi semua orang.
Saat kabut asap karhutla melanda, angka ISPU di sejumlah wilayah bisa naik hingga kategori tidak sehat, bahkan berbahaya. Pada titik ini, udara bukan lagi sekadar tidak nyaman dihirup, melainkan sudah menjadi ancaman bagi kesehatan.
Saat Udara Berbahaya, Tak Semua Bisa Menghindar
Ketika kabut asap karhutla menyelimuti suatu wilayah, tidak semua orang bisa memilih untuk tetap di dalam rumah. Pedagang harus membuka lapaknya, pengemudi ojek harus mengantar penumpang, dan anak-anak tetap berangkat ke sekolah.
Di sisi lain, tidak semua warga memiliki perlindungan yang layak. Masker yang dipakai sering kali seadanya, bahkan ada yang hanya menutup hidung dengan kain atau tidak memakai pelindung sama sekali.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan gangguan pernapasan menghadapi risiko yang lebih besar. Bagi mereka, setiap hari di tengah asap adalah perjuangan untuk tetap sehat.
Hadirkan Kepedulian untuk Mereka yang Tetap Beraktivitas di Tengah Asap
Di balik langit yang memudar, ada warga yang tetap harus menjalani hari di tengah udara yang tidak lagi bersahabat. Ada yang bekerja, bepergian, dan menjalankan aktivitas lainnya meski asap masih menyelimuti.
Di saat seperti ini, perhatian kecil dari kita dapat berarti bagi mereka. Salurkan kepedulianmu untuk warga terdampak kabut asap karhutla melalui TemanBaik.id.
